Paduan Tradisional & Modern di BATIQA Hotel

Paduan Tradisional & Modern di BATIQA Hotel

Ketika keluar dari Stasiun Cirebon, seorang lelaki tersenyum sambil melambaikan tangan pada saya. Awalnya saya abaikan, barulah kemudian saya melihat tanganya memegang kertas dengan tulisan 'Batiqa Hotel'.

Penjemputan di stasiun menuju hotel (atau sebaliknya), merupakan salah satu fasilitas yang ditawarkan (baca: Batiqa Hotel). Kedatangan saya dan jadwal kereta saya bahkan dikonfirmasi ulang oleh pihak hotel sehari sebelumnya.

Kalau melihat di peta, Hotel Batiqa Cirebon memang tidak berada di seputaran kawasan kota lama. Tapi, kata orang Cirebon sendiri, "Tidak ada yang jauh di sini. Ke mana-mana dekat." Benar saja, tak sampai setengah jam, saya sudah melihat lambang mirip kupu-kupu di atas gedung tinggi.

Biarlah dibilang norak, karena sejak melangkah masuk ke dalam lobby hotel mata saya sudah jelalatan ke mana-mana. Melihat ornamen tumbuhan di langit-langit dan keramik bernotif mega mendung yang dipajang di dinding lorong.

Bahkan ketika staf hotel meminta tanda pengenal dan menanyakan sesuatu, saya sempat tidak mendengar, saking asiknya memperhatikan cap-cap batik yang disusun rapi dan menjadi latar di belakang meja resepsionis.

TRADISIONAL, MODERN & SIMPEL
Suara gending Pasundan yang dimainkan melalui pengeras suara menemani mulai dari lobby, selama di dalam lift, sampai di depan pintu kamar saya di lantai 8. Bukan karena saya tamu istimewa, tapi begitulah Batiqa Hotel memadukan unsur tradisional di fasilitas modern ini.

Kamar saya menghadap Utara, tirainya setengah tertutup. Tampaknya untuk meredam panasnya udara di luar. Pendingin ruangan pun harus bekerja lebih keras untuk membuat kamar lebih nyaman.

Di atas tempat tidur tergulung handuk dengan sebuah kertas bertuliskan Save Water Earth Future, kartu semacam ini biasa digunakan sebagai penanda bila penghuni hotel menginginkan seprai atau handuk diganti keesokan hari.

Bila menginap berapa malam di hotel, biasanya saya tidak meminta seprai untuk diganti. Toh, yang tidur di situ saya sendiri. Nah, kalau handuk, terkadang saya memang minta ganti. Terbayang dong, kotornya badan saya yang penuh debu dan keringat setelah seharian berkeliling kota.

Wastafel dan cermin berada di luar kamar mandi yang dibatasi pintu kaca. Ukuran kamar mandi tidak besar. Bagi saya tidak masalah, shower dengan air hangat sudah sangat menyenangkan. Sama seperti di kamar, lantai kamar mandi pun dilapisi parket yang memperkecil kemungkinan terpeleset.

Interior kamar dibuat simpel, kekinian, dan rapi. Paling tidak masih rapi saat saya masuk. Percayalah dalam 10 menit setelah saya meletakkan ransel, kamar ini akan berbeda penampakannya ha.... ha.... ha.... ha....

KELUYURAN DI HOTEL
Biasanya kamar jadi tempat paling nyaman selama tinggal di hotel. Tapi mungkin karena dalam beberapa hari ke depan saya melakukan perjalanan sendiri, jadi sebisa mungkin saya mencari tempat-tempat yang ramai.

Saya memilih duduk-duduk di lounge.  Click here to read more...